Selamat Datang

Sekedar berbagi bahan pendalaman iman yang dapat dipergunakan untuk pertemuan lingkungan.
Semoga bermanfaat.

Selasa, 18 Oktober 2011

Khotbah Karismatik Matius 13:18-23

MENDENGAR sang PENABUR 
Matius 13:18-23

Ada empat hal yang akan kita renungkan pada malam ini.

1. MENDENGAR
Perumpamaan ini adalah salah satu perumpamaan yang paling dikenal dalam Alkitab karena sering diajarkan atau dikhotbahkan. Tampaknya perumpamaan ini tidak membutuhkan terlalu banyak penafsiran karena Yesus sendiri sudah menjelaskan maknanya kepada para murid. Tapi walaupun perumpamaan ini cukup mudah dipahami, perumpamaan ini tetap harus diperhatikan. "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
Mendengar dengan sepenuh hati tidaklah mudah.
Konon, pernah terjadi, seorang istri minta cerai pada suaminya. Saudara tahu apa sebabnya? Sebabnya adalah ini: setiap kali si istri bicara, suaminya hanya berkata, "o", "hm"… Pa, atap kita bocor. O. Pa, sudah mandi? Hm. Pa, enak nggak masakan mama? Hm. Tiap kali bicara, jawabnya hanya, "o", "hm"… Si suami punya telinga, tetapi ia tidak mendengarkan istrinya. Istrinya lama-lama ndak tahan, lalu minta cerai.
Mendengar dengan sepenuh hati tidaklah mudah.
Coba kita bandingkan sebentar dua hal ini: telinga dan mulut. Dengan 1 mulut saja, kita sudah bisa makan banyak, malah sangat banyak, sampai kegemukan, kolestrol dan jantung. Tapi mengapa dengan 2 telinga, kita masih saja kurang bisa mendengarkan? Berapa telinga yang kita perlukan supaya bisa lebih bisa mendengar?
Jadi, telinga ini, berapa pun jumlahnya, sangat penting.
Tuhan Yesus bersabda, "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" Mendengar bukan sekedar mendengar, tetapi memperhatikan, mengindahkan, dan melaksanakan.

2. PENABUR
Tokoh dalam perumpamaan ini hanya satu, yaitu seorang penabur. Pekerjaannya adalah menaburkan benih. Benihnya ada yang jatuh di pinggir jalan, tetapi kemudian habis dimakan burung. Ada juga yang jatuh di tanah berbatu, bisa tumbuh tetapi tidak bisa berakar karena tanahnya tipis. Lalu ada yang jatuh di tengah semak duri, bisa tumbuh tetapi kemudian mati karena terhimpit semak yang tumbuh lebih subur. Namun ada yang tumbuh di tanah yang subur hingga berbuah berpuluh-puluh kali lipat.
Penabur ini tidak pilih kasih; tidak pilih-pilih jenis tanah. Semua ia taburi dengan benih. Dan benih yang ia taburkan juga sama kualitasnya. Setiap benih yang ditaburkan punya potensi yang sama untuk bertumbuh dengan baik. Semua sekarang tergantung pada tanahnya.
Penabur ini melambangkan Tuhan Yesus sendiri. Jangan pikir bahwa Yesus menaburkan sabda Allah hanya kepada orang-orang baik saja. Tidak. Ia menaburkan sabda Allah kepada semua orang: orang baik, orang tidak baik; orang jujur, orang tidak jujur. Semua dapat kesempatan yang sama, untuk mendapatkan taburan sabda Allah yang sama, dengan kualitas yang juga sama.
Malam ini saja contohnya. Kita semua mendengarkan sabda Allah dibacakan dan dikhotbahkan. Kutipannya sama, Mat 13:18-23, orang yang khotbah sama, isi khotbahnya sama, tetapi percayalah bahwa hasilnya pada tiap orang pasti akan beda-beda.

3. BENIH
Dalam kutipan tadi, Tuhan Yesus juga berbicara tentang benih. Ada benih yang berbuah, ada juga benih yang tidak berbuah.
Sudah sejauh manakah kita telah menjadi benih yang berbuah? Apakah kehadiran kita dapat membawa kesegaran, ketenangan, kedamaian, dan kegembiraan bagi orang-orang di sekitar kita?
Apakah kita mau menjadi benih yang berbuah? Kalau mau, kita harus sadar bahwa menjadi benih yang berbuah tidaklah mudah. Kalau kita mau menjadi benih yang berbuah, kita harus rela mati lebih dulu; harus rela rela berkurban; rela menderita demi kebahagiaan orang lain. Agak susah bukan?
Suatu kali seorang pastor berkhotbah. "Saudara-saudara, hari ini Tuhan Yesus mengajak kita untuk rela berkorban demi kebahagiaan orang lain. Apakah saudara-saudara rela berkorban?" Umat serentak menjawab, "Rela pastor!" "Bagus! Kebetulan, hari ini seorang saudara kita membutuhkan donor. Donor ginjal. Cukup satu ginjal saja. Pastor ada bawa bulu ayam. Pastor akan hembuskan bulu ayam ini. Orang yang dijatuhi bulu ayam ini adalah orang yang terpilih untuk mendonorkan satu ginjalnya. Apakah saudara-saudara rela?" Umat serentak menjawab, "Rela pastor!" "Baik! Mari kita lihat!" Dan bulu ayam itu kemudian dihembus ke atas  oleh pastor. Cukup tinggi. Kemudian melayang perlahan ke arah seorang bapak. Bapak ini tahu ada bahaya. Dia hembus lagi bulu ayam itu. "Huf". Bulu ayam melayang ke seorang ibu. Ibu ini tahu bahaya. Dia hembus lagi bulu ayam itu. "Huf". Begitulah seterusnya. Berlangsunglah pertandingan hembus-hembusan bulu ayam. Akhirnya bulu ayam itu melayang di atas kepala pastor. Pastor juga tahu bahaya. Dia pun hembus lagi bulu ayam itu. "Huf".
Susah bukan? Jangankan menderita untuk orang lain, menderita untuk diri sendiri saja kita tidak mau. Kita tidak tahan dengan penderitaan.
Contohnya. Oleh dokter saya dianjurkan sebisa mungkin mengurangi makan daging. Ya saya coba. Diet daging. Demi kebaikan diri sendiri. Tapi waktu melihat istri makan sate danguang-danguang, saya jadi sangat menderita. Saya ndak tahan. Saya ambil juga beberapa tusuk.
Inilah contoh sederhana, betapa kita tidak tahan dengan penderitaan, demikebaikan diri sendiri. Sebisa mungkin, kita berusaha menjauhi penderitaan. Akibatnya apa? Kita juga tidak terbiasa untuk berkurban. Tidak ada penderitaan, tidak ada pengurbanan.
Namun Tuhan Yesus sudah memberi kita peringatan. Kalau kita tidak mau menjadi benih yang mati, kita tidak akan pernah menjadi benih yang berbuah. Kalau kita ingin menjadi benih yang berbuah, kita harus menjadi benih yang mati.

4. TANAH
Dalam bacaan tadi, Tuhan Yesus bersabda, "Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." Yesus memang bicara soal jumlah. Tapi bukan soal jumlah yang penting. Yang penting adalah berbuah. Mau banyak, mau sedikit, tidak masalah. Yang penting berbuah.
Maka kalau kita mau melayani, jangan bandingkan diri kita dengan orang lain. Barangkali kita merasa belum sehebat orang lain, yang banyak sekali buahnya. Atau bisa jadi, kita merasa lebih hebat dari orang lain, yang buahnya lebih sedikit daripada kita. Tidak ada gunanya membandingkandiri kita dengan orang lain. Yesus tidak pentingkan jumlah. Yang Ia pentingkan: berbuah. Biarlah sedikit, tapi ada hasil. 
Kita ingat sejenak kisah tentang 5 roti dan 2 ikan. Jumlah itu sangat sedikit. Tapi Tuhan terima dengan sukacita. Mengapa? Yang penting memang bukan jumlah. Tapi saya percaya bahwa kita semua pasti bisa memberi lebih dari sekedar 5 roti dan 2 ikan. Kita pasti bisa berbuah lebih banyak dari itu.
Kita tentu ingin menjadi tanah yang subur. Maka perhatikanlah diri kita. Jangan perhatikan orang lain: salahnya orang, khilafnya orang, dosanya orang…. Jangan! Perhatikan saja diri kita, karena sebenarnya banyak yang harus kita kerjakan: hati kita perlu dibajak dan dipupuk.
Kesempatan tidak perlu dicari, semua sudah Tuhan sediakan untuk kita.
Hati kita dipupuk setiap kali kita mendengarkan sabda Allah, membaca Kitab Suci dan merenungkannya. Maka jangan juga suka tertidur waktu khotbah.
Hati kita dibajak setiap kali kita mengalami penderitaan. Penderitaan yang ditanggung dengan sabar; penghinaan yang diterima dengan lapang dada, akan melembutkan dan melunakkan hati kita.  Membuat hati kita jadi gembur. Tidak padat. Tidak keras.
Ini semua membantu kita menjadi tanah yang subur bagi benih yang Tuhan taburkan.

Khotbah untuk PDKK St Yusuf, Padang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar