Selamat Datang

Sekedar berbagi bahan pendalaman iman yang dapat dipergunakan untuk pertemuan lingkungan.
Semoga bermanfaat.

Jumat, 18 Oktober 2013

HIDUP BERSAMA YESUS (2) - Yoh 8:51-59

HIDUP BERSAMA YESUS (2)
Yoh 8:51-59

Ay 51. "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya."
Ada dua macam kematian. Kematian jasmani dan kematian rohani. Kematian yang mana yang dimaksudkan Yesus pada ayat ini? Kematian rohani. Putusnya hubungan dengan Allah. Putus hubungan dengan pacar tidak apa. Cari yang lain. Dunia kan tidak selebar layar ipad. Putus hubungan dengan perusahaan juga tidak apa. Cari yang lain. Putus hubungan dengan mertua pun masih tidak apa, asal anaknya masih sama kita. Tapi putus hubungan dengan Allah? Habislah kita. Tidak selamat dunia akhirat.

Ay 52.  Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: "Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.
Di sini nampak bahwa orang-orang Yahudi salah menafsirkan sabda Yesus. 'Maut' yang dimaksud oleh Yesus adalah 'kematian rohani'. Tetapi orang-orang Yahudi menafsirkannya sebagai 'kematian jasmani'. Kesalahan tafsir ini menyebabkan mereka makin yakin bahwa Yesus kerasukan setan.
Salah memahami Firman Tuhan memang akan menyebabkan kita menyimpang dari iman yang benar; menyebabkan kita mempunyai mempunyai pandangan yang sesat. Maka pelajarilah Firman Tuhan baik-baik. Caranya bagaimana? Berdoalah dan bacalah.

Ay 53.  Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?
Di sini nampak kebodohan orang-orang Yahudi. Bagaimana mungkin Yesus, Putera Allah, dibandingkan dengan Abraham dan para nabi. Ya tidak level. Itu bagaikan membandingkan bulan dengan matahari. Bulan memang bercahaya. Tapi kalau cahaya bulan dibandingkan dengan cahaya matahari, cahaya bulan tidak ada artinya. Cahaya bulan tidak berasal dari dirinya sendiri. Bulan hanya memantulkan cahaya matahari.
Begitu pula Abraham dan para nabi. Santo dan santa. Mereka semua memancarkan cahaya kekudusan. Tapi cahaya itu tidak berasal dari diri mereka. Mereka hanya memantulkan cahaya kekudusan Allah.
Semua orang yang percaya, memantulkan cahaya kekudusan Allah. Tapi kadarnya beda-beda. Sama seperti cermin. Makin bersih sebuah cermin, makin cemerlang cahaya yang ia pantulkan. Makin kotor sebuah cermin, makin redup cahaya yang ia pantulkan. Makin kotor lagi? Ia tidak lagi memantulkan cahaya apa apa.
Agar cahaya kekudusan Allah dapat memantul cemerlang dari diri kita, kita harus rajin bersih-bersih. Bersihkan hati. Bersihkan pikiran. Bersihkan perkataan. Bersihkan kelakuan. Jangan cuma sibuk bersihkan casing. Casing mengkilat, hati berkarat. Tak ada gunanya. Mandi lulur sampai tiga kali sehari. Akhirnya kulit jadi transparan. Juga tak ada gunanya. Akhirnya, hidup kita akan makin bersih kalau kita sunguh hidup bersama Yesus.

Ay 54-55  Jawab Yesus: "Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya.
Kalau mau disederhanakan, Yesus sebenarnya mau berkata begini: "Aku sungguh mengenal Bapa-Ku. Seorang Anak tentu mengenal Bapa. Tetapi kamu, orang-orang Yahudi, tidak mengenal Allah, sekalipun kamu ngaku-ngaku sebagai anak Allah juga."
Mengapa Yesus mengatakan bahwa orang-orang Yahudi tidak mengenal Allah? Tolok ukur apa yang dipakai Yesus?
Pasti bukan ketekunan berdoa. orang-orang Yahudi rajin berdoa. Mereka shalat-nya (atau tselota dalam bahasa Aram) tujuh kali sehari. Lebih rajin daripada orang Katolik. Pasti juga bukan ketekunan membaca Firman Tuhan.
Tolok ukur yang dipakai Yesus terdapat di sini: "Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya." Tolok ukur yang dipakai Yesus adalah menuruti Firman Allah. Orang Yahudi tekun berdoa, tekun baca Firman, tapi tidak taat pada Firman. Mengenal Allah dan mentaati Allah tidak bisa dipisahkan. Apakah kedua-duanya ada pada diri kita?

Ay 56.  Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita."
Abraham telah melihat Yesus, bahkan sebelum Yesus dilahirkan. Dalam Kej 17:17 dikisahkan bahwa ketika malaikat menyampaikan kabar kepada Abraham bahwa Sara akan melahirkan, Abraham tertawa. Mengapa Abaraham tertawa? Menurut Yesus, Abraham tertawa bukan karena tak percaya, tapi karena ia melihat hari kelahiran Yesus. Ia bergembira. Ada kerinduan dalam hati Abraham untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, walaupun ia dipisahkan oleh jarak dan waktu. Dalam bahasa orang zaman sekarang, Abraham mengalami LDR, “long distance relationship” dengan Yesus.  Dan itu susah.
Kita lebih beruntung daripada Abraham. Tidak ada jarak dan waktu yang memisahkan kita dari Yesus. "Aku ada di dalam kamu, dan kamu ada di dalam Aku…" Tapi, apakah kerinduan kita untuk hidup bersama Yesus sama besarnya dengan kerinduan Abraham? Apakah kegembiraan hati kita saat bersatu dengan Yesus sama besarnya dengan kegembiraan Abraham yang hanya bisa melihat dari jauh?
Contohnya. Waktu ikut misa, waktu terima komuni, tidak semua orang wajahnya gembira. Katanya dengan terima komuni, kita satu dengan Yesus. Tapi wajahnya masih bengis, sadis, melankolis… Kalah dari Abraham.
Apalagi kalau kaum bapak terima komuni. Perhatiannya pada Yesus sering teralihkan. Apalagi kalau di barisan depan, kiri, atau kanannya ada cewek yang bening-bening. Tidak tahu lagi mana yang mau disambut. Tubuh Kristus atau tubuh yang lain. Lihat Tubuh Kristus... jangan lihat tubuh yang lain...

Ay 57-58.  Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."
Di sini kita berhadapan dengan misteri pewahyuan diri Yesus yang sangat dalam. Dalam Perjanjian Lama kita tahu bahwa nama Allah adalah Yahweh, “Aku ada adalah Aku ada”. Dan sekarang Yesus berkata, "Aku telah ada". Apa artinya ini? Artinya adalah bahwa Yesus adalah Allah. Dan inilah yang membuat orang-orang Yahudi sangat marah.

Ay 59.  Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.
Mereka menganggap Yesus telah menghina Allah.  Maka mereka mau merajam Yesus. Tetapi Yesus ‘menghilang’. Kata 'menghilang', dalam bahasa aslinya adalah ‘disembunyikan’. Yesus disembunyikan oleh Bapa.
Mengapa disembunyikan? Ada dua alasan. Alasan pertama soal waktu. Belum waktunya Yesus mati.  Alasan kedua soal sebab. Allah menetapkan bahwa Yesus mati karena disalib, bukan karena dirajam. Allah sudah menetapkan waktu dan cara mati setiap orang. Ada yang matinya mungkin setahun lagi,  sebulan lagi, seminggu lagi. Tidak ada yang tahu. Makanya tidak usah rebutan. Antri saja yang rapi, sambil menyiapkan diri. Semua akan dapat giliran. Penyebab mati setiap orang pun beda-beda. Ada yang karena sakit, kecelakaan, bencana alam, kejahatan, atau karena “digantung di Monas”.
Hidup dan mati kita ada di tangan Allah. Kalau Allah belum menentukan kita untuk mati, ya tidak akan mati. Sebaliknya, kalau Allah sudah menentukan kita untuk mati, kita mau lari kemanapun, ya tetap saja akan mati.

Hiduplah bersama Yesus, dalam penyerahan diri kepada Allah. Hidup mati kita ada dalam tangan-Nya yang penuh kasih. Mati itu bagaikan kendaraan: kendaraan yang harus kita naiki untuk dapat sampai ke rumah Bapa. 
HIDUP BERSAMA YESUS (1)
Yoh 7:1-2.10.25-30

1.   Yesus berjalan keliling Galilea. Tentu bukan untuk shoping atau traveling, tapi untuk serving, melayani. Dan sangat luar biasa bahwa Yesus tetap mau melayani di Galilea. Mengapa? Karena dalam kutipan sebelumnya dikisahkan bahwa di Galilea banyak sekali murid Yesus yang mengundurkan diri; pensiun dini jadi murid Yesus. Mereka merasa bahwa jadi murid Yesus itu terlalu berat. Namun hal itu tidak membuat Yesus patah hati. Walaupun banyak muridNya yang mengundurkan diri, Yesus tetap melayani.
Penerapan:
Terlibat dalam pelayanan itu berat. Tidak ringan. Maka banyak orang yang mundur. Tapi walaupun rekan-rekan sepelayanan kita banyak yang mundur, kita jangan ikut-ikutan mundur. Belajarlah pada Yesus yang selalu melayani, apapun yang terjadi. Hidup bersama Yesus, memberi kita kekuatan untuk melayani.

2. Yesus melayani di Galilea, daerah tertinggal, terbelakang, kampungan, kalau dibandingkan dengan Yudea. Di Yudea ada Yerusalem: pusat pemerintahan, pusat keagamaan. Banyak pejabat, banyak pedagang. Banyak orang kaya. Lahan basah. Kalau Yesus mau hitung-hitung ang pao, Yesus akan  pilih Yudea. Tapi yang penting bagi Yesus bukan ang pao. Melainkan hati yang bertobat. Dan di Yudea, terutama di Yerusalem, Yesus sulit sekali menemukan hati yang bertobat. Para pemimpin agama Yahudi ingin sekali membunuh-Nya.
Penerapan:
Kolekte dan persembahan sebesar apapun tidak akan berguna bagi keselamatan kita kalau kita tidak punya hati yang bertobat. Lakukanlah kebaikan apa saja, tapi kalau hati kita tidak bertobat, semua sia-sia. Yang Yesus rindukan ada dalam diri kita adalah kesediaan untuk bertobat dan kembali hidup bersama dengan-Nya.

3.   Para pemimpin agama Yahudi ingin sekali membunuh Yesus gara-gara apa? Gara-gara Yesus menyembuhkan orang sakit di kolam Betesda, pada hari Sabat (Yoh 5:1-18). Peristiwa itu terjadi enam bulan yang lalu. Tapi mereka masih menyimpan amarah dan kebencian kepada Yesus.
Penerapan:
a.   Waktu ternyata tidak bisa menyembuhkan amarah; waktu tidak bisa menyembuhkan kebencian; waktu tidak bisa menyembuhkan dendam. Amarah, kebencian, dan dendam hanya dapat disembuhkan oleh kasih dan pengampunan. Kalau kita masih menyimpan amarah, kebencian, dan dendam, kita tak ada bedanya dengan para pemimpin agama Yahudi.
b.   Mengampuni adalah salah satu sifat Allah. Makin dekat dengan Allah, makin mudah kita mengampuni. Makin jauh dari Allah, makin sulit kita mengampuni.
c.    Hal yang sebaliknya terjadi pada setan. Apa setan bisa sembuhkan orang? Bisa. Apa setan bisa bikin keajaiban? Bisa. Banyak hal yang bisa dibikin oleh setan. Tapi ada satu yang setan tidak bisa bikin. Mengampuni. Kalau kita juga tak bisa mengampuni, kita lebih mirip siapa? Allah atau setan? Karena itu, hiduplah bersama Yesus, Anak Allah, agar kita memiliki kesangupan untuk mengampuni.

4.   Saudara-saudara Yesus mendorong Yesus untuk pergi ke Yudea. Menurut mereka, tak ada gunanya Yesus berkarya di Galilea. Gak bakalan top. Kalau mau top, berkaryalah di Yudea, di Yerusalem. Dengan cara itu mereka mengejek Yesus. Menyedihkan memang. Sanak famili-Nya sendiri tidak percaya pada-Nya. Mereka tahu banyak tentang Yesus, tetapi tidak percaya kepada-Nya.
Penerapan: 
Kita bisa saja tahu banyak tentang Yesus, tapi tidak percaya kepadaNya. Kita tidak diselamatkan karena tahu banyak tetang Yesus, tetapi karena kita menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita; dan hidup bersama-Nya.

5.   Maka Yesus tetap berkarya di Galilea. Sedangkan saudara-saudara-Nya berangkat ke Yudea, ke Yerusalem, karena di sana akan ada perayaan besar, yaitu perayaan Pondok Daun (sukkoth): berlangsung selama 7 hari; syukur atas panen; syukur atas dua peristiwa penting yang terjadi pada waktu bangsa Israel mengembara di padang gurun: yaitu keluarnya air dari batu karang, dan tiang awan yang selalu menyertai bangsa Israel.
Karena mempertimbangkan adanya perayaan besar itu, Yesus akhirnya pergi juga ke Yerusalem. Namun Ia tidak membuat mukjizat. Ia hanya mengajar. Dengan cara ini, Yesus sebenarnya mau mengatakan bahwa:  Dia adalah air yang keluar dari batu karang… air yang memberi kehidupan kekal.  Dia adalah tiang awan sejati. Tiang awan yang lama telah membimbing bangsa Israel sampai ke Tanah Terjanji. Yesus, tiang awan yang baru, akan surga. Terimalah Dia… hiduplah bersama dengan-Nya.

6.   Anehnya tidak ada seorang pun pemimpin agama Yahudi yang menangkapNya. Orang-orang Yahudi heran. Mengapa pemimpin mereka tidak menangkap Yesus? Jangan-jangan pemimpin mereka sudah menerima Yesus sebagai Mesias. Tapi itu tak mungkin. Bagaimanapun hebatnya, Yesus bukan Mesias. Alasannya apa? Mesias yang sejati tidak diketahui asalnya, sedangkan Yesus diketahui asal-Nya: Nazaret.
Penerapan: 
a.   Memang, selalu saja ada alasan untuk menolak Yesus. Dan sampai hari ini masih banyak orang yang menolak Yesus dengan macam-macam alasan. Setan memang selalu bisa memberi alasan kepada kita untuk menolak Yesus.
b.   Kalau setan bisa memberi banyak alasan supaya orang menolak Yesus, setan juga juga bisa memberi banyak alasan supaya kita tidak pergi ke gereja, tidak berdoa, tidak membaca Kitab Suci, tidak melayani, tidak mentaati firman Tuhan dan sebagainya. Maka hati-hatilah dengan berbagai alasan yang muncul di dalam hati kita.

7.   Yesus berkata bahwa pengenalan yang dimiliki kebanyakan orang Yahudi tentang diriNya hanyalah pengenalan jasmaniah. Mereka tidak memiliki pengenalan rohaniah tentang Yesus, padahal justru itu yang paling penting. Orang yang punya pengenalan rohanian tentang Yesus akan percaya bahwa Yesus berasal dari Allah.
Yesus menyatakan bahwa mereka tidak punya pengenalan rohaniah akan Yesus karena mereka tidak mengenal Allah. Ini suatu tuduhan yang keras sekali. Maka para pemimpin agama Yahudi berusaha menangkap Yesus. Tetapi mereka tidak dapat menyentuhNya, karena "waktunya belum tiba."
Penerapan: 
a.   Berdoalah pada Allah supaya Ia karuniakan pada kita pengenalan rohaniah akan Yesus, supaya kita bisa dibimbingnya sampai ke Tanah Terjanji. Kita tidak diselamatkan oleh pengetahuan tentang Yesus, tetapi oleh kesediaan untuk menerima Yesus, hidup bersama dengan-Nya, dalam penyerahan diri kepada Allah.

b.   Nasib maupun kematian kita ada dalam tangan Allah. Sekalipun ada banyak bahaya, penyakit, bencana, yang sebetulnya bisa menyakiti atau membunuh kita, kita akan tetap aman, sampai pada saat Allah, sesuai dengan rencanaNya, mengijinkan kematian kita. 

Jumat, 21 Oktober 2011

Khotbah Karismatik - Luk 17:20-25

 KERAJAAN ALLAH AKAN DATANG SEGERA ??? 
Luk 17:20-25

Kerajaan Allah. Kita sering dengar istilah itu. Tapi apa yang dimaksud dengan Kerajaan Allah? Demi mudahnya, kita bisa katakan bahwa Kerajaan Allah itu punya dua pengertian. Pertama, Kerajaan Allah adalah Allah sendiri, yang mau menjadi raja dalam hidup kita. Kedua, Kerajaan Allah berkaitan dengan akhir zaman.

PENGERTIAN YANG PERTAMA

*    Kerajaan Allah adalah Allah sendiri, yang memiliki kehendak dan rencana untuk menyelamatkan kita. Allah mau menjadi raja atas hidup kita. Jika Allah menjadi raja atas hidup kita, maka kita akan selamat.
*    Kapan Kerajaan Allah itu akan terwujud? Kapan Allah menjadi raja dalam hidup kita? Tuhan Yesus mengatakan pada ayat 21, “Kerajaan Allah ada di antara kamu”. Kerajaan Allah itu ada di antara kita; hadir dalam berbagai peristiwa hidup kita. KERAJAAN ALLAH HADIR PADA SAAT KITA TAAT DAN TUNDUK PADA ALLAH.
-     Ketika seorang istri mau mengampuni suaminya, yang telah mengkhianati janji perkawinan mereka; di situ hadir Kerajaan Allah.
-     Ketika kita mau mengulurkan tangan kepada seorang sahabat yang telah menyakiti hati kita; ketika kita mau memaafkannya, di situ hadir Kerajaan Allah.
-     Ketika kita terus saja terlibat dalam pelayanan, walau orang lain kadang-kadang mencela kita, omong jelek tentang kita, salah paham dengan kita, di situ hadir Kerajaan Allah.
*    Jadi, rupanya KERAJAAN ALLAH ITU TERWUJUD DALAM PENDERITAAN. Dikhianati oleh suami misalnya, adalah penderitaan. Jangan bilang, dikhianati oleh suami adalah kebahagiaan. Mana ada ibu-ibu yang ketika dikhianati suaminya langsung berkata: “Haleluya, Puji Tuhan. Saya sudah dikhianati!” Dikhianati, entah oleh suami, entah oleh istri, entah orang siapa saja, adalah penderitaan. Disakiti oleh sahabat, di cela dan diomongi yang jelek oleh orang lain, semua adalah penderitaan. Tapi ketika kita, dalam penderitaan kita, tetap taat pada Allah, di situ terwujud Kerajaan Allah. Allah merajai hidup kita. Jadi rupanya KERAJAAN ALLAH dan PENDERITAAN itu satu paket; Two in One.
*    Dan itulah yang telah dialami oleh Tuhan Yesus sendiri. Kerajaan Allah itu terwujud secara paling unggul dalam diri Yesus, Tuhan kita. Sepanjang hidup-Nya, Yesus sungguh-sungguh taat pada Allah. Dan karena mau taat pada Allah, Yesus mengalami banyak penderitaan.
Orang-orang yang tidak paham akan berkata: Tuhan Yesus itu suka menderita. Tuhan Yesus sengaja bikin diri-Nya sengsara. Ini paham yang keliru. Yang disukai dan dipilih Yesus adalah ketaatan pada Allah; bukan penderitaan. Penderitaan itu konsekuensi dari ketaatan-Nya pada Allah. Ini paham yang benar.
*    Hal yang sama juga berlaku untuk kita. Kalau kita memilih untuk taat pada Allah; kalau kita ingin Kerajaan Allah terwujud dalam hidup kita, siap-siaplah menderita. Penderitaan yang kita alami adalah konsekuensi dari ketaatan kita kepada Allah.
*    Tapi kita percaya bahwa PENDERITAAN KITA TIDAKLAH SIA-SIA. Derita seorang isteri, yang tetap mau mengampuni suaminya, walau suaminya berkali-kali bohong, bukanlah derita yang sia-sia. Derita kita, yang tetap mau mengulurkan tangan persahabatan kepada orang yang berulang kali bikin kita jengkel dan sebel, bikin kita sakit hati dan keki, bukanlah derita yang sia-sia. Derita kita, yang tetap senyum, tetap melayani, walau gempa sering menggoyang,  juga bukan derita yang sia-sia.
Derita seorang ibu, dalam membesarkan, merawat dan memelihara anaknya yang tidak tahu terimakasih, juga tidaklah sia-sia. Kalau anak-anak suka memberontak, suka melawan, incim-incim zaman dulu suka bilang begini, “Onde, sue siau gua menggedangkan lu. Kok tau begini perange lu, ancak gua suntik mati se lu…!”
*    ALLAH AKAN MEMPERMULIAKAN ORANG YANG MENDERITA KARENA IMANNYA. Dan hal ini sudah terjadi dalam diri Yesus, Tuhan kita. Karena ketaatan-Nya, Yesus dipermuliakan oleh Allah. Pada ayat 24 Tuhan Yesus mengatakan pada akhir zaman nanti, Ia akan datang kembali dengan penuh kemuliaan. Dan orang-orang yang menderita karena taat pada Allah, akan diangkat Tuhan Yesus ke surga; ikut serta dalam kemuliaan-Nya. Mau tidak, ikut dalam kemuliaan Tuhan? Mau. Mau tidak, ikut dalam penderitaan Tuhan? Tidak. Ya, kita memang suka pilih-pilih. Kalau Tuhan kasih berkat, kita langsung bilang: “Gua dulu, gua dulu.” Tapi kalau Tuhan kasih salib, kita langsung lirik orang di sebelah kita, “Eh, lu majulah!” 
*    Tadi saya katakan bahwa Kerajaan Allah dan penderitaan itu satu paket; Two in One. Tapi ini belum lengkap. Yang lengkap adalah Tree in One. Apa itu? KERAJAAN ALLAH, PENDERITAAN, KEMULIAAN. Demi Kerajaan Allah, kita menderita. Namun setelah kita menderita, kita akan dipermuliakan.
*    Inilah pengertian Kerajaan Allah yang pertama. Kerajaan Allah adalah Allah sendiri, yang mau menjadi raja atas hidup kita, demi keselamatan kita. Jika Allah menjadi raja atas hidup kita, kita memang akan menderita. Tapi kita akhirnya akan dimuliakan.

PENGERTIAN YANG KEDUA

*    KERAJAAN ALLAH ADALAH SOAL AKHIR ZAMAN. Dalam diri Yesus, Kerajaan Allah sudah terwujud secara begitu istimewa. Dan dalam diri kita, Kerajaan Allah juga dapat terwujud, asal kita sungguh taat pada Allah. Tetapi Kerajaan Allah akan terwujud secara sempurna pada akhir zaman nanti. Pada akhir zaman nanti, kehendak dan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia akan terwujud sepenuh-penuhnya.
*    KAPANKAH DATANGNYA AKHIR ZAMAN ITU? Jawabannya kita tentu sudah tahu, yaitu: Kita tidak ada yang tahu. Dan tidakada seorang pun yang tahu. Maka jangan mudah ditipu oleh aliran sesat! Baru saja kaum muslim gempar karena kasus Al Masih Al Mawud.
*    Aliran sesat tidak saja muncul dalam agama Islam. Dalam agama Kristen, aliran sesat itu ready stock.  Contohnya aliran MILENARISME. Aktor intelektualnya adalah Jim Jones, Joseph Kibweteere, dan David Koresh. Yang paling mutakhir adalah si David Koresh ini. Si David ini menyatakan bahwa ia sudah tahu kapan kiamat itu akan tiba. Harinya, tanggalnya, dan jamnya, ia sudah tahu. Dan ribuan orang percaya pada omongan si David ini. Si David kemudian mengajak semua pengikutnya mempersiapkan diri menyambut datangnya kiamat. Tapi tunggu punya tunggu, kiamat ternyata tidak juga datang. Akhirnya, si David dan para pengikutnya bunuh diri ramai-ramai. Mereka percaya bahwa dengan bunuh diri massal, mereka akan diangkat dalam kemuliaan surgawi.
*    Kita mungkin heran, mengapa banyak orang percaya pada si David ini. Selidik punya selidik, ternyata si David ini ternyata PUNYA KHARISMA. Kalau ia bicara, orang perpesona dan terkesima. Dan menurut penelitian, semua aktor ajaran sesat memang punya kharisma seperti itu. Tampil memukau, kemilau. kiamat Hebat, hebat, hebat. Tahu-tahu sesat! Maka jangan cepat terpesona pada pandangan pertama. Tuhan Yesus jauh-hari hari sudah mengingatkan kita. Pada ayat 24 Tuhan berkata, “Hati-hati… orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Hati-hati…”
*    Ketika gempa dan tsunami mengancam, banyak orang terima SMS, “Gempa dan tsunami adalah tanda bahwa kiamat sudah dekat. Bertobatlah.” SMS ini juga termasuk aliran sesat. Mengapa? SMS ini bertentangan dengan sabda Tuhan Yesus. Baca ayat 20, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah…” Kerajaan Allah itu datang tidak pakai tanda-tanda. Kalau tsunami ada erly warning system-nya. Tapi kalau kiamat, ndak ada. Tahu-tahu dia datang. Blas.
*    Dan sabda Tuhan Yesus pada ayat 20 diteguhkan oleh sabda Tuhan pada ayat  24, “Sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya.” KIAMAT DISAMAKAN DENGAN KILAT. Kita tahu kilat bukan? Pernah lihat kilat? Kilat itu datangnya kan tanpa permisi. Ya ndak. Tahu-tahu, byar. Kalau kilat itu datang, apakah masih perlu kita cari-cari: Dimana ya kilatnya? Tidakkan? Kilat itu langsung kelihatan dengan sendirinya. Byar. Nah begitu juga dengan akhir zaman. Ketika akhir zaman datang, kita langsung tahu, “Oh, inilah akhir zaman! Itu, Tuhan Yesus sudah kelihatan di langit!” Ndak usah lagi tanya-tanya: “Mana? Di sana, atau di sini?” Ndak usah tanya. SEMUA ORANG AKAN MELIHAT. Maka hati-hati. Jangan cepat-cepat terpesona oleh penampilan yang hebat; oleh khotbah yang hebat; oleh mukjizat yang hebat. Siapa tahu sesat!
*    Kita kembali pada ayat 20 dan 21. Orang-orang Farisi bertanya, kapankah Kerajaan Allah akan datang. Dan Yesus mengatakan, “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” Yang Yesus mau katakan sebenarnya ini: “Kasihan kamu, orang-orang Farisi. Kamu terlalu cemas memikirkan keadaanmu pada hari kiamat nanti. Tapi kamu lalaikan hidupmu sekarang ini. Saat ini, dalam diri-Ku, kata Yesus, Kerajaan Allah sudah datang. Tapi kamu tidak menerima-Ku. Padahal itulah yang paling penting.” Sabda yang sama juga akan Tuhan katakan kepada kita, “……”
*    Jadi, yang paling penting apa? TERIMALAH TUHAN YESUS! Jangan cemaskan bagaimana hidup kita nanti; bagaimana kalau jadi ada gempa besar dan tsunami. Antisipasi perlu. Tapi jangan terlalu cemas. Cemaskan hidup kita sekarang ini. Cemaskan dosa-dosa yang masih juga membelenggu kita sekarang ini. Cemaskan Kerajaan Setan yang masih juga bersarang dalam hati kita. Terimalah Tuhan sebagai raja yang berkuasa dalam hidup kita. Kalau sudah demikian, apa pun yang terjadi, terjadilah. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan.

Khotbah untuk PDKK St. Katarina dari Sienna

Khotbah Karismatik - Lukas 15:1-7

PERUMPAMAAN TENTANG DOMBA YANG HILANG
Lukas 15:1-7

Ada satu hal yang menarik dari bacaan ini. Pada ayat 1 dikatakan, “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.” Jadi yang biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan sabda-Nya adalah orang-orang berdosa. Sangat jarang terjadi bahwa ada orang-orang yang baik datang kepada Yesus. Orang-orang baik merasa tidak memerlukan Tuhan. Tapi orang-orang berdosa merasa sangat memerlukan Tuhan. Jadi, kalau pada malam ini kita datang ke persekutuan, itu merupakan tanda: tanda bahwa kita ini orang yang berdosa; tanda bahwa kita ini orang yang sangat memerlukan Tuhan.
Orang-orang yang baik merasa tidak memerlukan Tuhan. Memang mereka datang juga kepada Tuhan. Tetapi bukan untuk diajar Tuhan, melainkan untuk mengajar Tuhan. Dan itu yang dikisahkan pada ayat 2, bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Mereka datang bukan untuk menerima pelajaran dari Tuhan, melainkan untuk memberi pelajaran kepada Tuhan.
Menurut orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, Yesus jelas telah melanggar salah satu prinsip utama dalam kehidupan seorang Yahudi yang baik. Orang Yahudi yang baik tidak boleh bergaul dengan orang-orang berdosa.
Ada kisah tentang seorang rabi bernama Ze’ira. Ia hidup sekitar tahun 300 Masehi. Ze’ira adalah seorang rabi yang bergaul dengan orang-orang berdosa. Ia bergaul dengan orang-orang berdosa untuk mempertobatkan mereka. Tetapi rekan-rekannya sesama rabi mengkritik Ze’ira. Jadi, bahkan bergaul dengan tujuan untuk mempertobatkan juga tidak boleh. Mengapa?
Menurut orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, orang-orang berdosa itu najis. Orang yang bergaul dengan orang najis, ikut menjadi najis. Kenajisan itu bagaikan penyakit menular.  Bagaimanapun kudusnya orang, kalau dia bergaul dengan orang berdosa, dia akan tertular oleh kenajisan. Kekudusan dikalahkan oleh kenajisan.
Tetapi prinsip Yesus justru terbalik. Kenajisan dikalahkan oleh kekudusan.
Berkaitan dengan hal ini, ada satu hal menarik yang perlu kita ketahui. Di dalam Alkitab Perjanjian Lama ada satu benda yang dapat menguduskan setiap orang yang menyentuhnya. Tahu benda apa itu? Benda itu adalah mezbah persembahan. Mezbah persembahan adalah sebuah semacam meja tempat dimana kurban bakaran dipersembahkan kepada Allah. Mezbah persembahan menjadi benda yang kudus. Siapa saja yang menyentuhnya akan tertular oleh kekudusannya. Kalau ada orang berdosa yang menyentuh mezbah persembahan, yang terjadi bukanlah bahwa kenajisan orang berdosa menular pada mezbah persembahan, melainkan sebaliknya, kekudusan mezbah persembahan menular pada orang berdosa itu. Kenajisan dikalahkan oleh kekudusan. *
Mezbah persembahan dalam Perjanjian Lama itu sebenarnya hanyalah pralambang. Pralambang dari mezbah persembahan yang sejati, yaitu Tuhan Yesus. Sama seperti mezbah persembahan, Tuhan Yesus sungguh kudus. Dan karena Ia sungguh kudus, Ia tidak takut bergaul dengan orang berdosa. Tidak ada orang berdosa yang dapat menularkan kenajisannya kepada Tuhan Yesus. Yang terjadi justru sebaliknya: kekudusan Tuhan Yesus menular kepada orang-orang berdosa yang datang kepada-Nya. Kekudusan mengalahkan kenajisan. Setiap kali Tuhan Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa, yang berubah bukanlah Tuhan Yesus. Pergaulan dengan orang berdosa tidak mengurangi atau merusak kekudusan Yesus. Yang berubah adalah orang berdosa. Mereka bertobat, mereka menjadi kudus.
Sekarang bagaimana dengan kita? Selama ini sikap kita terhadap orang berdosa lebih mirip siapa: lebih mirip orang Farisi dan Saduki, atau lebih mirip Yesus? Dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih sering bersikap seperti orang-orang Farisi dan Saduki. Kita dengan mudah menghakimi dan mengucilkan orang-orang yang sudah lama tidak pergi ke gereja; menghakimi dan mengucilkan orang-orang yang sudah lama tidak muncul di rayon; menghakimi dan mengucilkan orang-orang yang kita anggap berdosa. Mengapa?
Ada macam-macam jawaban. Tapi jawaban yang paling mendasar adalah karena kita sendiri tidak yakin dengan kekudusan kita. Kita takut. Jangan-jangan kalau kita bergaul dengan orang berdosa kita ikut menjadi najis. Dan ketakutan kita itu ada dasarnya. Pengalaman membuktikan kepada kita bahwa ada banyak orang baik yang akhirnya menjadi jahat karena bergaul dengan orang jahat.
Suami baik-baik, setelah bergaul dengan suami-suami yang brengsek, akhirnya ikut menjadi suami yang brengsek. Anak-anak yang awalnya taat dan patuh sama orangtua, setelah bergaul dengan anak-anak brandal akhirnya terus melawan sama orangtuanya.
Inilah pengalaman kita. Yang baik dirusak oleh yang jahat.
Tapi kalau kita terus-menerus takut untuk bergaul dengan orang berdosa, kita pada akhirnya akan repot sendiri. Mengapa? Karena bumi ini penuh dengan orang berdosa.  Dimana-mana kita bertemu dengan orang berdosa. Jadi, kalau kita sungguh alergi dengan orang berdosa, sebaiknya kita pindah saja ke planet lain, misalnya ke bulan atau ke matahari. 
Tapi itukan tidak mungkin. Kalau begitu, apa solusinya? Solusinya adalah: mendekatlah pada Tuhan Yesus, agar kekudusan Tuhan Yesus memenuhi hidup kita. Dan kalau kekudusan Tuhan telah memenuhi hidup kita, kita tidak akan dapat ditulari kenajisan. Kalau kita telah hidup kudus, hidup benar dihadapan Allah, pergaulan dengan orang berdosa tidak akan mengubah kita. Kita tetap kudus. Yang berubah adalah orang berdosa. Karena bergaul dengan kita, orang berdosa akhirnya bertobat, dan menjadi kudus. Kekudusan kita menular pada mereka. Kekudusan mengalahkan kenajisan.
Tentu saja kita harus banyak berdoa agar kita dapat menjadi mezbah persembahan bagi Tuhan, agar siapa saja yang bergaul dengan kita, akhirnya mengalami perubahan dan pertobatan.

***

Sekarang, marilah kita arahkan perhatian pada perumpamaan yang diberikan Tuhan. Pada ayat 4 dikisahkan bahwa ada orang yang punya 100 ekor domba. Suatu hari, seekor dombanya hilang. Dan karena ia sangat mencintai domba-dombanya, ia tinggalkan yang 99 ekor dan ia cari 1 ekor yang sesat itu sampai ia menemukannya. Kata-kata yang tertulis pada ayat 4, “sampai ia menemukannya”, dengan sangat tepat menggambarkan betapa besar kasih orang itu kepada dombanya.  Ia tidak akan pulang ke rumahnya sebelum ia berhasil menemukan dombanya yang hilang itu. Perumpamaan ini sesungguhnya menggambarkan sikap hati Allah sendiri kepada kita, orang yang berdosa.
Dalam Perjanjian Lama, berkali-kali para nabi menyampaikan seruan seperti ini: “Hai orang-orang berdosa, carilah Allah selama Ia masih bersedia untuk ditemukan, karena ada saatnya kamu tidak akan pernah bisa lagi mencari dan menemukan-Nya.” Jadi orang-orang berdosa diajak oleh para nabi untuk mencari Allah. Cari Allah sekarang juga. Dan itu disertai ancaman. Kalau kamu tidak mencari Allah sekarang ini juga, kamu tidak akan pernah bertemu dengan Allah. Tapi namanya juga orang berdosa. Dikhotbahi dan diancam berkali-kali tetap tidak berubah. Orang-orang berdosa sedikitpun tidak tergerak hatinya untuk mencari Allah. Inilah situasi di dalam Perjanjian Lama.
Akhirnya, karena tidak ada orang berdosa yang mau mencari-Nya, Allah sendiri yang turun ke dunia ini untuk mencari orang-orang berdosa. Sungguh luar biasa kasih Allah kepada kita. Ia tidak membiarkan kita hilang. Ia terus mencari kita, sampai kita ditemukan oleh-Nya.

***

Sekarang mari kita masuk ke dalam makna rohani dari perumpamaan ini. Yang dibahas di dalam perumpamaan ini adalah seekor domba. Seekor domba hilang. Dalam Alkitab, istilah domba selalu melambangkan umat Allah yang terpilih. Orang-orang yang tidak termasuk ke dalam umat Allah terpiih tidak pernah disebut sebagai domba. Mereka disebut sebagai kambing.
Maka kalau kita naik mobil, dan kemudian ada orang yang melintas di depan kita tanpa lihat kanan dan kiri, kita kan teriak: “Kambing luh…” Ndak pernah kita teriak: “Domba luh…” Mengapa? Karena domba itu lambang umat terpilih.
Anehnya, dalam perumpamaan ini yang hilang bukan kambing, melainkan domba. Yang hilang itu justru umat Allah yang terpilih. Jadi, umat Allah yang terpilih sekalipun, ternyata masih bisa hilang. Memang ada lagu… “Kita semua umat terpilih, jadi kesayangan Tuhan”. Lagu itu benar. Kita memang umat terpilih. Tapi walau pun kita telah menjadi umat terpilih, kalau kita tidak hati-hati, kita bisa hilang. Maka jangan bangga dengan status kita sebagai umat Allah terpilih. Kita tidak selamat karena status. Kita selamat karena kita hidup sesuai dengan status.
Tema yang sama masih diteruskan dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, Luk 15:11-32. Perhatikanlah bahwa yang hilang itu bukan seorang pembantu, bukan seorang pelayan, bukan seorang budak. Yang hilang itu adalah seorang anak: anak bapa. Apa artinya ini? Artinya tetap sama: jangan bangga dengan status kita sebagai anak Allah. Anak Allah juga bisa hilang. Kita selamat bukan karena status. Kita selamat karena kita hidup sesuai dengan status. Kalau status kita adalah umat Allah, hiduplah sungguh-sungguh sebagai umat milik Allah. Kalau status kita adalah Anak Allah, hiduplah sungguh-sungguh sebagai anak Allah. Kalau hidup kita tidak sesuai dengan status kita, kita tidak akan selamat. Kita akan hilang.

***

Namun sekali lagi kita harus bersyukur kepada Allah, karena kalaupun kita hilang, Allah masih bersedia mencari kita. Hati-Nya selalu tertuju pada kita. Ia tetap mempedulikan kita. Mungkin orang lain sudah tidak lagi menaruh harapan pada kita, tetapi Allah tidak begitu. Ia akan terus mencari kita.
Allah adalah Allah yang Maha Pengampun. Ia selalu merindukan kita. Dan Ia akan mengampuni kita. Tidak hanya mengampuni, akan tetapi Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
Orang lain barangkali akan berkata kepada kita, “Baiklah, kali ini kamu saya ampuni, tetapi awas, jangan coba-coba berbuat seperti itu lagi.” Pengampunan yang diberikan manusia kepada kita adalah pengampunan yang punya limit, punya batas. Batasnya maksimal tiga kali. Tapi pengampunan Allah kepada kita adalah pengampunan tanpa batas. Dari kita, Allah hanya menuntut satu hal saja: yakni bertobat; jangan keraskan hatimu, dan biarkan Allah sendiri menggendongmu, seperti sang gembala menggendong dombanya.
Kalau domba yang hilang tadi, ketika ditemukan oleh tuannya terus saja memberontak, tidak mau diam, tuannya tidak mungkin dapat membawanya pulang. Begitu pun kita. Ketika Allah sudah menemukan kita, namun kita terus saja memberontak, Allah juga tidak mungkin dapat menggendong kita. Maka bertobatlah: jangan keraskan hatimu, dan biarkan Allah sendiri menggendongmu.

* (Kel 29:37; 30:29)

Khotbah untuk PDKK St. Katarina dari Sienna

Khotbah Karismatik - Luk 21:29-33

MELEWATI KRISIS DENGAN IMAN
 Luk 21:29-33

Sekarang kita hidup dalam krisis. Ada macam-macam krisis. Ada krisis geologis. Lempeng bumi bergerak dan bergeser, saling tubrukan. Muncullah gempa bumi dan tsunami. Ada krisis vulkanis. Gunung api meletus. Memutahkan lahar dan awan panas.  Akhirnya ada krisis rohani. Situasi serba tidak pasti, serba tidak menentu, membuat hidup rohani kita jadi lesu. Gempa tidak saja mengguncang rumah kita, tapi juga mengguncang iman kita. Gempa tidak saja meruntuhkan bangunan, tapi juga meruntuhkan iman kita.
Situasi ini diperburuk dan diperparah oleh macam-macam ramalan. Ramalan tentang bencana yang lebih dahyat. Dan yang bikin orang semakin resah adalah karena ramalan-ramalan itu mengutip ayat-ayat Alkitab! Orang yang tidak mengerti Alkitab, tentu makin cemas. Kalau ramalan itu ngutip Alkitab, kesannya apa? Kesannya adalah bahwa ramalan itu pasti akan sunguh terjadi.
Tapi saya mau katakan bahwa ramalan-ramalan yang mengutip Alkitab adalah ramalan-ramalan yang menyalahgunakan Alkitab. Alkitab tidak ditulis sebagai buku ramalan. Alkitab tidak berisikan ramalan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan.
Memang, ada bagian-bagian tertentu dalam Alkitab yang nampaknya, sepintas lalu, seakan berisikan ramalan-ramalan seperti itu. Termasuk Lukas bab 21 ini. Namun semua itu sebenarnya bukanlah ramalan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa depan!
Lukas bab 21, termasuk ayat 29 sampai dengan ayat 33, berisikan sabda-sabda apokaliptik. Apokaliptik itu bahasa Yunani, apokaluptein, artinya menyingkapkan, menyibakkan apa yang tersembunyi. Kalau mempelai pria membuka cadar yang menutupi wajah mempelai wanita, itu apokaluptein. Kalau ga ada apokaluptein, wajah mempelai wanita akan tetap tersembunyi.  Kalau Satpol PP menyibakkan kelambu-kelambu biru di pinggir pantai sana, itu apokaluptotein. Kalau ga ada apokaluptein, pasangan yang lagi bermeraan di balik tenda biru itu akan tetap tersembunyi. Dan kalau Allah menyatakan rencana-Nya untuk menyelamatkan kita, itu apokaluptein. Kalau ga ada apokaluptein, rencana Allah untuk menyelamatkan kita, akan tetap tersembunyi. Akibatnya, kita akan hidup dalam kecemasan terus menerus; ketakutan terus menerus; putus asa terus menerus. Kita akan menganggap bahwa hidup kita hanya berakhir pada kematian yang sia-sia.
Nah, sabda-sabda yang kita baca dalam ayat 29 sampai dengan ayat 33 adalah sabda-sabda apokaliptik, sabda-sabda yang menyingkapkan kepada kita rencana Allah untuk menyelamatkan kita.
Kita baca ayat 29 dan 30: "Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat.” Di sini Tuhan Yesus bicara tentang suatu kepastian. Kalau pohon mulai bertunas, itu tanda bahwa musim panas pasti akan datang. Tidak mungkin ketika pohon bertunas, yang datang adalah musim dingin atau musim gugur. Yang datang pasti musim panas.
Datangnya musim panas adalah suatu kepastian. Datangnya Kerajaan Alah, datangnya Allah yang menyelamatkan, juga adalah suatu kepastian. Pada ayat 31  Tuhan Yesus bersabda, “Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.” Memang di kanan kiri kita terjadi berbagai bencana, berbagai krisis, berbagai tragedi. Boleh jadi kita merasa bahwa kita seakan makin dekat dengan maut. Tetapi kita jangan takut. Sebab “ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat”, Allah sendiri akan datang untuk menyelamatkan kita. Dan tidak ada apapun juga yang dapat menggagalkan rencana Allah untuk menyelamatkan kita. Tidak gempa. Tidak tsunami. Tidak letusan gunung merapi. Tidak penyakit. Tidak kematian. Tidak ada apapun juga yang dapat menggagalkan rencana Allah untuk menyelamatkan kita.
Pada ayat 32  Tuhan Yesus bersabda, “Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi.” Apa artinya ayat ini? Artinya adalah bahwa karya penyelamatan Allah itu berkaitan dengan semua angkatan, semua orang. Semua orang akan mendapatkan tawaran keselamatan dari Allah. Semua orang, termasuk kita yang hadir pada malam ini, diundang untuk menerima uluran tangan Allah yang menyelamatkan.
Pada ayat 33  Tuhan Yesus bersabda, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." Dunia ini penuh dengan ketidak pastian. Segalanya dapat berlalu bagai angin. Hari ini ada, besok tiada. Kita tidak dapat mengandalkan langit dan bumi yang serba tidak pasti. Kita tidak bisa mengandalkan harta kekayaan yang juga serba tidak pasti. Kita tidak bisa mengandalkan apa pun. Kita hanya bisa mengandalkan Tuhan saja,  yang sabda-Nya kekal selamanya. Hanya satu saja yang pasti, yakni bahwa Allah mau datang sebagai raja yang menyelamatkan kita.

Khotbah untuk PDKK St. Yusuf

Kamis, 20 Oktober 2011

Pendalaman Iman Mengenai Keluarga 1

KESEJATIAN HIDUP DALAM KELUARGA

Yang menjadi pusat perhatian bahan pendalaman ini adalah kehidupan keluarga kristiani yang sejati. Sebuah keluarga dapat disebut sebagai keluarga kristiani sejati jika keluarga itu hidup sesuai dengan sabda Kristus yang terdapat dalam Kitab Suci. Keluarga kristiani dipersatukan dengan Kristus dan diutus untuk mewartakan cinta kasih. 
Namun dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat betapa relasi dan kerukunan dalam keluarga terancam. Suami meninggalkan istri, istri meninggalkan suami. Anak-anak menjadi korban perceraian. Berbagai kasus kekerasan dalam rumah tangga terjadi hampir setiap hari. Dan kehidupan iman dalam keluarga semakin kurang diperhatikan. Doa bersama, misa bersama, ziarah keluarga, telah semakin luntur. 
Karena itu melalui tema "Kesejatian Hidup Dalam Keluarga", kita diajak untuk merenungkan dan memperbaharui lagi kehidupan kita sebagai keluarga kristiani.

Pertemuan Pertama
KOMUNIKASI SEJATI DI DALAM KELUARGA

PEMBUKAAN

1. Lagu Pembuka 

2. Tanda Salib dan Salam
P. Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U. Amin.
P. Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, beserta kita.
U. Sekarang dan selama-lamanya.

3. Pengantar
Dalam abad modern sekarang ini, kita mengalami pesatnya kemajuan yang dicapai alat-alat komunikasi. Namun sayang, kemajuan teknologi komunikasi itu tidak selalu dibarengi dengan meningkatnya kualitas komunikasi antar  pribadi di dalam keluarga. Kecanggihan alat komunikasi terkadang justru mengasingkan kita dari keakraban berkomunikasi; merenggangkan hubungan antar pribadi; menggeser pentingnya komunikasi tatap muka.
Teknologi komunikasi mengalami kemajuan, namun dalam hidup berkeluarga masih sering terjadi salah paham, percekcokan, pertengkaran, yang terkadang berkembang menjadi konflik berat. Itu semua terjadi antara lain akibat dari kurang terjalinnya komunikasi dalam keluarga. Karena itu, pada pertemuan pertama ini kita akan merenungkan bersama-sama, bagaimana suami-istri dapat berkomunikasi dengan baik. Komunikasi yang baik merupakan kunci menuju kebahagian hidup berkeluarga.

4. Doa Pembuka
P. Ya Bapa Yang Mahabaik, kami bersyukur karena Engkau telah mempersatukan kami sebagai satu keluarga. Sebagai satu keluarga,  kami sadar bahwa kami tidak selalu mampu berkomunikasi dengan baik, sehingga kesalahpahaman sering muncul. Oleh karena itu, pada masa Prapaskah ini kami bertekad untuk dengan pertolongan rahmat-Mu meningkatkan mutu komunikasi kami satu dengan yang lain, agar kami sungguh menjadi keluarga yang kristiani. Doa ini kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sepanjang segala masa.
U. Amin.

MENDALAMI KISAH

1. Kisah Keluarga Duka dan Lara
Duka adalah seorang suami yang sangat mencintai istrinya, Lara, yang dinikahinya lima tahun lalu. Ketika liburan sekolah mulai, sebagai seorang guru, Duka ingin tinggal di rumah untuk membantu istrinya yang repot mengurusi anaknya yang masih kecil, memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah. Sambil menunggu istrinya yang sedang mengantar anaknya ke Puskesmas, Duka ingin membuat suatu kejutan untuk menyenangkan istrinya tercinta. Karena tidak ada pembantu, Duka memilih dapur sebagai medan kerja baktinya. Ia membuang sampah dan membersihkan semua hal yang masih kotor. Piring, cangkir, sendok-garpu, dan semua peralatan dapur yang baru dipakai dicuci semua dan diatur di tempat rak yang ada. Ketika ia mendengar derap kaki istrinya menapaki lantai rumahnya, hatinya mulai berbunga-bunga. Ia tidak sabar menunggu reaksi istrinya menyaksikan apa yang telah dilakukannya. Namun, apa reaksi istrinya? Ketika melihat rak-rak tempat alat-alat dapur, ia berkomentar, "Pa, panci-panci ini bukan di situ tempatnya! Piring-piring ini juga, mestinya diletakkan miring. Ini lagi, sendok-garpu mengapa ditaruh di sini!" Kemudian ketika melihat lantainya basah, Lara masih berkata, "Papa ini bagaimana sih, lantainya mengapa basah semua, seperti baru kebanjiran saja?"
Betapa kecewanya Duka mendengar tanggapan istrinya yang tercinta. Ia tidak mengira bahwa maksud baiknya mendapat tanggapan negatif. Apa yang ia banggakan, yaitu membantu pekerjaan istrinya di dapur, justru mendapat kritikan, dan bukannya pujian. Hati Duka terluka. Ketika hal serupa terulang beberapa kali, Duka mulai menutup diri. Komunikasi Duka dan Lara mulai merenggang.
Disadur dari Ign. Wignyasumarta, MSF. Panduan Rekoleksi Keluarga. Kanisius. Yogyakarta, 2000. Halaman 68-70.

2. Mendalami Kisah
Duka sangat menyayangi istrinya, Lara. Untuk mengungkapkan kasih sayangnya, Duka membuat suatu kejutan yang diharapkan dapat menyenangkan istrinya. Tetapi mengapa yang terjadi justru sebaliknya? Di mana letak kesalahannya sehingga komunikasi antara Eddy dan Lusi merenggang?
Jawaban yang diharapkan:
Lara gagal mengartikan pesan yang hendak disampaikan oleh Duka. Duka, ketika mengungkapkan kasih sayangnya kepada Lara dengan membersihkan alat-alat dapur, mengharapkan tanggapan positif: penghargaan, pujian dan kekaguman. Tetapi yang diterimanya justru celaan dan kritikan. Ia sangat kecewa. Hatinya terluka. Tanggapan negatif itulah yang menggagalkan komunikasi.

MENDENGARKAN SABDA

1. Filipi 2:1-2
1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 
2   karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 
3   dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
 4   dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

2. Mendalami Kitab Suci
a. Apa nasehat Santo Paulus sehubungan dengan komunikasi antar anggota dalam keluarga?
b. Apa yang akan Anda lakukan untuk meningkatkan mutu komunikasi Anda di dalam keluarga?
Jawaban yang diharapkan terdapat dalam bagian Rangkuman dan Peneguhan.

3. Rangkuman dan Peneguhan
a. Pertengkaran dan perselisihan antara suami dengan isteri, orangtua dengan anak-anak, kakak dengan adik, disebabkan karena masing-masing hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, dan menutup mata bagi kebutuhan orang lain. Karena itu Santo Paulus menasehati agar kita semua sungguh bersatu dalam kasih, sehati sepikir, untuk menggapai satu tujuan. Dan kesatuan itu hanya tercapai bila kita masing-masing bersikap rendah hati, serta menganggap yang lain lebih penting daripada diri sendiri. 
b. Memang kita memiliki kecenderungan untuk selalu mau mengubah sikap dan perilaku orang lain, entah itu pasangan hidup kita, anak-anak kita, atau saudara-saudara kita. Untuk itu, kita siap bertengkar. Akan tetapi, pertengkaran tidak pernah membawa perubahan yang sebenarnya di dalam sikap. Kita tak dapat memaksa orang lain agar masuk ke dalam gambaran yang kita miliki. Kunci perubahan yang sesungguhnya adalah kasih. Kekuatan kasih dapat mengubah apa yang tak bisa diubah melalui pertengkaran.
c. Lagi pula, suatu pernyataan dapat diungkapkan dengan berbagai cara. Cara yang arif dan cara yang tidak arif. Cara yang arif terfokus pada diri kita sendiri, misalnya, "Aku merasa frustrasi dan kurang bersemangat ketika kamu tidak meneleponku pada pukul lima tadi." Cara yang tidak arif memindahkan fokus dari diri sendiri kepada orang lain, misalnya, "Mengapa kamu tidak meneleponku pada pukul lima seperti yang telah kita sepakati."
d. Dan jika kita mau berkomunikasi, rumuskanlah tujuannya. Tujuan kita adalah mengungkapkan diri secara jelas dan spesifik, serta hindarilah kata-kata yang mengandung pernyataan umum seperti "selalu" dan "tak pernah". Daripada berkata, "Kamu selalu kurang perhitungan," lebih baik berkata "Dalam hal ini kamu kurang perhitungan." Daripada berkata, "Kamu tidak pernah memahami saya", lebih baik berkata "Kali ini kamu tidak memahami saya."
e. Selain itu, kita juga perlu sungguh-sungguh mendengarkan, sebelum berbicara. Tidak hanya mendengarkan suara, melainkan juga mendengarkan jeritan hati. Untuk bisa mendengarkan, di butuhkan perhatian yang total. Perhatikanlah setiap hal yang ada pada anggota keluarga kita, misalnya gerak tubuhnya, yang bisa menyingkapkan perasaan jauh lebih banyak daripada kata-kata yang ia ucapkan.

MENANGGAPI SABDA

1. Doa Umat
P. Saudara-saudari, marilah kita dengan segenap hati memanjatkan doa kepada Allah, Bapa kita, yang dengan murah hati senantiasa mendengarkan doa anak-anak-Nya.
P. Semoga seluruh keluarga kristiani di paroki kita mampu menyatakan dan mengungkapkan kasih Kristus dengan terus-menerus belajar untuk mengkomunikasikan diri dengan lebih baik. Marilah kita mohon:
U. Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
P. Semoga seluruh keluarga kristiani di paroki kita memperoleh rahmat kasih yang besar, sehingga setiap orang yang bermusuhan dapat saling mengampuni serta berdamai kembali, dan dengan demikian memberi sumbangan nyata bagi terciptanya dunia yang baru. Marilah kita mohon:
U. Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
P. Semoga seluruh keluarga kristiani di paroki kita semakin menyadari panggilan mereka untuk menjadi tempat dimana suasana saling mendengarkan, saling memahami dan saling menghargai dapat tumbuh dengan subur. Marilah kita mohon:
U. Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

2. Doa Spontan
Peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan doa-doa secara spontan.
P. Demikianlah Bapa doa-doa yang kami sampaikan kepada-Mu dengan rendah hati. Sudilah kiranya Engkau mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kami, demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.
U. Amin.

3. Bapa Kami
Marilah kita satukan seluruh doa-doa kita dengan doa yang diajarkan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, Bapa Kami…

PENUTUP

1. Doa Penutup
P. Ya Bapa Yang Mahakasih, semoga berkat sabda-Mu pada hari ini, kami semua dapat belajar untuk senantiasa mengkomunikasikan suara hati kami masing-masing, sehingga terjalinlah saling pemahaman dan penerimaan dalam keluarga kami. Semoga kami semua dapat meneladani keluarga kudus di Nazaret yang hidup rukun dan bersatu padu. Doa ini kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sepanjang segala masa.
U. Amin.

2. Berkat
P. Semoga Tuhan beserta kita.
U. Sekarang dan selama-lamanya.
P. Semoga kita sekalian selalu diberkati oleh Allah yang Mahakuasa; Bapa, Putra dan Roh Kudus.
U. Amin.

3. Lagu Penutup

Pertemuan Kedua
PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA

PEMBUKAAN

1. Lagu Pembuka 

2. Tanda Salib dan Salam
P. Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U. Amin.
P. Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, beserta kita.
U. Sekarang dan selama-lamanya.

3. Pengantar
Dengan cara bagaimanakah anak-anak kita dapat menjadi anak-anak kristiani yang sejati? Anak-anak kita akan bertumbuh dan berkembang menjadi anak-anak kristiani sejati jika di dalam keluarga kita berlangsung proses pendidikan iman untuk mereka. Dan Konsili Vatikan II dalam dokumen Gaudium et Spes art. 3 menyatakan bahwa "orangtua mengemban tugas mahaberat, yakni mendidik putra-putri dan sebab itu mereka harus diakui sebagai pendidik yang pertama dan utama". Pendidikan iman anak-anak tidak bisa diserahkan begitu saja oleh orang tua kepada lembaga-lembaga lain. Sudah sejauhmanakah kita sebagai orangtua melaksanakan tanggungjawab kita itu? Inilah yang akan menjadi pokok permenungan kita dalam pertemuan kedua ini. 
4. Doa Pembuka
P. Ya Bapa Yang Mahabaik, bantulah kami agar mulai dengan masa Prapaskah ini, kami mampu mengolah, memperkuat, dan menumbuhkembangkan iman anak-anak kami sejak dini. Semoga berkat rahmat-Mu, kami mampu mendidik anak-anak kami dengan lebih baik, sehingga memperoleh pengetahuan serta pengenalan akan kasih dan kuasa-Mu. Doa ini kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sepanjang segala masa.
U. Amin.

MENDALAMI KISAH

1. Doa Bersama dalam Keluarga 
"Setiap malam, menjelang tidur, kami telah membiasakan diri untuk berdoa. Kami berdoa untuk menyukuri karunia Tuhan yang kami terima hari itu. Pada mulanya bayi kami yang tidur dalam ruang yang sama, tidak menyadari apa yang terjadi. Pada suatu malam, ketika berumur setahun lebih sedikit, ia tiba-tiba terjaga. Kami memperhatikan bagaimana ia berusaha mengangkat kepalanya, lalu memperhatikan dari celah-celah kisi-kisi boxnya. Ia selalu melakukan hal itu selama beberapa minggu kemudian. Mungkin ia bingung. Mengapa kami, papa dan mamanya, bicara sendiri-sendiri, bukan bicara satu dengan yang lain.
Ketika dia mulai beranjak agak besar dan mulai bisa mengerti, kami katakan kepadanya dengan kata-kata sederhana, "Papa dan mama sedang bicara dengan Tuhan." Setiap malam kami mengulangi kalimat ini. Kami sadar bahwa seorang anak tidak membutuhkan penjelasan, tapi pernyataan yang sederhana.
Disadur dari Anne Maria Zanzucchi. "Anakku dan Tuhan". Nusa Indah, Ende-Flores, 1986, hlm. 28-29.

2. Mendalami Kisah
Sejak kapan pendidikan iman untuk anak-anak itu harus dimulai, dan dengan cara bagaimana?
Jawaban yang diharapkan:
Pendidikan iman untuk anak-anak di dalam keluarga harus dimulai sejak anak masih berusia dini, dengan teladan sungguh-sungguh dari kedua orangtua. Teladan itu akan membawa pengaruh yang lebih kuat daripada hanya kata-kata. 

MENDENGARKAN SABDA

1. Ulangan 6:4-7
4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! 
5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. 
6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 
7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

2. Mendalami Kitab Suci
Menurut bacaan ini, 
a. Apa yang menjadi tujuan dari pendidikan iman anak dalam keluarga?
b. Apa saja yang bisa dilakukan orangtua dalam rangka memberikan pendidikan iman untuk anak-anaknya?
Jawaban yang diharapkan terdapat dalam bagian Rangkuman dan Peneguhan.

3. Rangkuman dan Peneguhan
a. Menurut Ulangan 6:4-7, tujuan dari pendidikan iman anak adalah agar anak-anak mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan mereka. Tetapi tujuan ini tentu perlu dilengkapi dengan satu tujuan lagi. Dalam Mat 22:37-39 Tuhan Yesus berkata, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Tujuan kedua dari pendidikan iman anak adalah agar anak-anak mengasihi sesamanya manusia seperti dirinya sendiri.
b. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa orangtua adalah pendidik yang pertama dan utama. Pendidikan iman anak-anak tidak bisa diserahkan begitu saja kepada lembaga-lembaga lain. Tugas itu disebut pertama dan utama justru karena tidak tergantikan. Pendidikan yang langsung diberikan oleh orangtua memilki pengaruh yang lebih kuat. Lagipula, kesediaan untuk memberikan pendidikan iman kepada anak-anak juga sudah diikrarkan dalam janji perkawinan.
c. Pendidikan iman harus diberikan kepada anak sejak usia dini, secara terus-menerus, dalam berbagai kesempatan dan peristiwa. Ulangan 6:7 mengatakan: "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." 
d. Beberapa hal kongkret yang dapat dilaksanakan misalnya dengan menanamkan kebiasaan yang baik. Anak-anak diajak membiasakan diri melakukan perbuatan baik yang nyata, yang dapat dilihat, didengar, dan ditiru. Karena itu, teladan dan contoh dari orangtua sangat penting.
e. Juga dengan memperkenalkan kehidupan menggereja. Hal ini dapat dilakukan melalui cerita tentang orang-orang suci, cerita-cerita Kitab Suci, pergi ke gereja, diikutsertakan dalam bina iman, putra-putri altar, berkat imam untuk anak-anak, dan lain-lain. Dengan cara ini, anak akan semakin mengenal nilai-nilai kekatolikan.

MENANGGAPI SABDA

1. Doa Umat
P. Saudara-saudari, marilah kita dengan segenap hati memanjatkan doa kepada Allah, Bapa kita, yang dengan murah hati senantiasa mendengarkan doa anak-anak-Nya.
P. Semoga seluruh keluarga kristiani di paroki kita, kendati dihadapkan pada berbagai kesukaran, menjadi tempat persemaian yang baik bagi segenap anggota untuk tumbuh dan berkembang dalam iman, harapan, dan kasih. 
U. Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
P. Semoga seluruh keluarga kristiani di paroki kita sungguh menjadi persekutuan iman dan kasih; persekutuan yang penuh belas kasih, saling menghargai dan melayani; persekutuan yang saling melayani dan berbagai, sehingga nilai-nilai luhur kemanusiaan semakin meresap ke dalam masyarakat kami. Marilah kita mohon:
U. Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
P. Semoga seluruh keluarga kristiani di paroki kita mampu menemukan sumber kehidupan dan persekutuan kasih mereka, yakni ambil bagian dalam Ekaristi, sehingga semua menjadi satu tubuh yang siap untuk dipecah dan dibagikan demi hidup bersama. Marilah kita mohon:
U. Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

2. Doa Spontan
Peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan doa-doa secara spontan. 
P. Demikianlah Bapa doa-doa yang kami sampaikan kepada-Mu dengan rendah hati. Sudilah kiranya Engkau mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kami, demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.
U. Amin.
3. Bapa Kami
Marilah kita satukan seluruh doa-doa kita dengan doa yang diajarkan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.  Bapa Kami…

PENUTUP

1. Doa Penutup
P. Ya Bapa Yang Maha Pengasih, melalui Kitab Suci Engkau telah menyampaikan sabda yang memberikan hidup kepada kami. Semoga dengan membaca, merenungkan, dan mengamalkan sabda-Mu, kami juga dapat menjadi pembawa kehidupan bagi sesama. Doa ini kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa dalam persekutuan dengan Roh Kudus, sepanjang segala masa.
U. Amin.

2. Berkat
P. Semoga Tuhan beserta kita.
U. Sekarang dan selama-lamanya.
P. Semoga kita sekalian selalu diberkati oleh Allah yang Mahakuasa; Bapa, Putra dan Roh Kudus.
U. Amin.

3. Lagu Penutup